{"id":935,"date":"2024-10-08T15:50:10","date_gmt":"2024-10-08T15:50:10","guid":{"rendered":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/?post_type=opd&#038;p=935"},"modified":"2025-07-15T02:02:44","modified_gmt":"2025-07-15T02:02:44","slug":"dengue-fever","status":"publish","type":"opd","link":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/opd\/disease\/dengue-fever\/","title":{"rendered":"Komentar tentang Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Demam Berdarah"},"content":{"rendered":"<style>\n.dim{\n\tfont-size: 24px;\n\tmargin: 50px 0 0px;\n\tbackground-color: #4cb5a0;\n\tcolor: #FFFFFF;\n\tborder-top: none;\n\tpadding-top: 0 !important;\n\tpadding: 10px 15px !important;\n}\n.usp {\nfont-size: 16px;\nline-height: 1.5;\nmargin-bottom: 20px;\n}<\/p>\n<p>.underline_02 {\n\/*background:linear-gradient(transparent 85%, #f4d20c 0%);\npadding: 0 0 10px 0;*\/<\/p>\n<p>border-bottom: solid 5px #f4d20c;\npadding: 0 0 6px 0;\n}\n.asxxs {\nbackground:linear-gradient(transparent 50%, rgba(246, 185, 104, 0.5) 50%);<\/p>\n<p>}<\/p>\n<p>.zvxb {\npadding: 0.5em 1em;\nmargin: 2em 0;\nfont-weight: bold;\ncolor: #6091d3;\nbackground: #FFF;\nborder: solid 3px #6091d3;\nborder-radius: 10px;\n}\n.zvxb p {\nmargin: 0; \npadding: 0;\n}\n    .exam_datalist dt{\n        color: #4cb39d;\n        margin-top: 2.3em;\n        font-weight: normal;\n    }\n    .exam_datalist dd {\n        margin: .7em 0;\n        line-height: 1.8em;\n    }\n    .exam_datalist a {\n        text-decoration: underline;\n        color: #4cb5a0;\n    }\n    .exam_images {\n        gap: 2em;\n        margin-top: 1em;\n    }\n    @media screen and (min-width: 1367px) {\n        p.text_margin {\n            margin-bottom: 0 !important;\n        }\n    }\n    @media screen and (max-width: 1366px) {\n        .exam_datalist dt:first-child {\n            margin: 0;\n        }\n        .exam_images {\n            flex-direction: column !important;\n        }\n    }<\/p>\n<p>#doctor .doctorbox{\n\tdisplay: flex;\n\tflex-wrap: wrap;\n\tjustify-content: flex-start;\n\tcolumn-gap: 2%;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart{\n\twidth: 48%;\n\tmargin-bottom: 40px;\n\tdisplay: flex;\n\tjustify-content: space-between;\n\talign-items: center;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart img{\n\twidth: 37%;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart .text{\n\twidth: 60%;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart .text .name{\n\tline-height: 1.5;\n\tfont-size: 15px;\n\tfont-weight: bold;\n\tmargin-bottom: 20px;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart .text .detail li{\n\tpadding-left: 1em;\n\tborder-left: 4px solid #50b3a0;\n\tmargin-bottom: 7px;\n\tfont-size: 12px;\n}\n@media screen and (max-width: 768px){\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart{\n\t\twidth: 100%;\n\t}\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart img{\n\t\twidth: 32%;\n\t}\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart .text{\n\t\twidth: 65%;\n\t}\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart .text .name{\n\t\tfont-size: 14px;\n\t\tmargin-bottom: 15px;\n\t}\n}\n<\/style>\n<link rel=\"stylesheet\" href=\"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/wp-content\/themes\/clinic\/style\/css\/pages\/department-test.css?v=20240717070928\">\n<div class=\"dim\">Mengenai Demam Berdarah Dengue (DBD)<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nDemam berdarah adalah penyakit virus yang menular melalui nyamuk yang ditandai dengan kejang otot yang parah, nyeri sendi, dan demam tinggi yang mencerminkan tingkat keparahan dan durasi gejala. Sebagian besar kasus demam berdarah tidak menunjukkan gejala atau muncul sebagai penyakit demam ringan, tetapi penyakit yang parah dan kematian dapat terjadi.  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan demam berdarah menjadi demam berdarah terduga, demam berdarah dengan tanda-tanda peringatan, dan demam berdarah parah. Demam berdarah telah meningkat pesat di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir yang mempengaruhi lebih dari 80 negara di seluruh wilayah WHO pada tahun 2023. Hingga April 2024, lebih dari 7,6 juta kasus demam berdarah, termasuk 3,4 juta kasus yang dikonfirmasi, lebih dari 16.000 kasus yang parah dan lebih dari 3.000 kematian, telah dilaporkan kepada WHO. Demam berdarah parah yang tidak diobati dapat menyebabkan tingkat kematian sebesar 10% hingga 20%. Namun, dengan perawatan suportif yang tepat, tingkat kematian dapat diturunkan hingga di bawah 1%.<\/p>\n<p><\/span><\/p>\n<div class=\"dim\">Demam berdarah di Indonesia<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nIndonesia merupakan negara tropis dimana kedua spesies nyamuk vektor utama merupakan spesies endemis di semua wilayah. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Indonesia, telah terjadi 119.709 kasus demam berdarah dengue dan 777 kematian hingga minggu ke-22 tahun 2024 di Indonesia.  Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten mencatat kasus terbanyak. Angka kejadian demam berdarah adalah 21,06% dan angka kematian sebesar 0,73% pada tahun 2023.<\/p>\n<p><\/span><\/p>\n<section id=\"exam\">\n<div class=\"dim\">Fase-Fase Demam berdarah<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nPerjalanan klinis demam berdarah mengikuti tiga fase: demam, kritis, dan pemulihan. Pasien dengan demam berdarah yang parah akan melalui ketiga fase tersebut.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<div class=\"text\">\n<dl class=\"exam_datalist\">\n<dt><b>1.Fase demam<\/b><\/dt>\n<dd>Selama fase demam, pasien biasanya mengalami demam tinggi secara tiba-tiba (mencapai 40\u00b0C) dan dapat berlangsung selama 2-7 hari. Namun, sekitar 6% kasus mungkin mengalami demam pelana atau demam bifasik &#8211; mencapai suhu normal di antara fase-fase tersebut. Gejala umum yang terkait dengan fase ini termasuk kemerahan pada wajah, ruam, nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala parah, kemerahan pada mata, nyeri di belakang mata, kelenjar bengkak, kehilangan nafsu makan, mual, dan muntah.<\/dd>\n<dt><b>2.Fase Kritikal<\/b><\/dt>\n<dd>\nFase kritikal dimulai pada akhir fase demam ketika suhu menurun, tetapi dapat terjadi sedini hari ketiga setelah demam pada pasien yang masih dalam fase demam. Fase ini adalah periode ketika pasien dapat mengalami demam berdarah yang parah atau mulai pulih. Penderita demam berdarah yang parah akan merasa gelisah dan memiliki gejala peringatan tambahan seperti <\/p>\n<div style=\" padding: 1.5em 1em; margin: 2em 0; color: #000000; background: #FFF; border: solid 3px #4E1C80; border-radius: 30px; font-size: 16px; line-height: 1.5;\"><!--font-weight: bold;--><br \/>\n<span style=\"margin: 0; padding: 0;\" >\u25cf <b class=\"asxxs\">Sakit perut yang parah<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Napas cepat<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Muntah yang terus-menerus<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Gusi atau hidung berdarah<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Darah dalam muntahan, tinja, atau air seni<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Kulit pucat dan dingin<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Merasa sangat haus<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Pengeluaran air seni berkurang<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Mengalami menstruasi dalam jumlah besar<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Merasa lemah<\/b>\n<\/div>\n<p>Sebelum fase kritis, sering terjadi penurunan jumlah trombosit yang cepat, disertai dengan peningkatan kadar hematokrit di atas. Peningkatan kadar hematokrit lebih dari 20 persen mengindikasikan demam berdarah yang parah. Jika tidak ditangani dengan baik, fase kritis dapat menyebabkan syok, kegagalan fungsi organ tubuh, dan akhirnya kematian.\n<\/dd>\n<dt><b>3.Fase pemulihan<\/b><\/dt>\n<dd>\nSetelah fase kritikal, pasien memasuki fase pemulihan di mana kondisi pasien terus membaik selama 2 hingga 3 hari. Selama fase ini, gejala dan temuan laboratorium terus menerus membaik. Tanda-tanda pemulihan:<br \/>\nDenyut nadi, tekanan darah, dan laju pernapasan yang stabil<\/p>\n<div style=\" padding: 1.5em 1em; margin: 2em 0; color: #000000; background: #FFF; border: solid 3px #4E1C80; border-radius: 30px; font-size: 16px; line-height: 1.5;\"><!--font-weight: bold;--><br \/>\n<span style=\"margin: 0; padding: 0;\" >\u25cf <b class=\"asxxs\">Suhu tubuh normal<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Tidak ada bukti perdarahan eksternal atau internal<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Kembalinya nafsu makan<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Tidak ada muntah<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Tidak ada nyeri perut<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Keluaran air kemih yang baik<\/b><br \/>\n<br \/>\n\u25cf <b class=\"asxxs\">Hematokrit yang stabil pada tingkat awal<\/b><\/p>\n<\/div>\n<p>Pada sebagian besar kasus tanpa komplikasi, trombosit akan meningkat menjadi normal dalam waktu 3-5 hari, tetapi sebaiknya hindari aktivitas traumatis setidaknya selama 1-2 minggu jika jumlah trombosit tidak lebih dari 50.000\/mm3 saat keluar dari rumah sakit.\n<\/dd>\n<\/dl><\/div>\n<\/section>\n<div class=\"dim\">Serotipe Virus Dengue<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nKasus demam berdarah telah tercatat di seluruh 34 provinsi di Indonesia, dengan keempat serotipe DENV (DENV-1, -2, -3, dan -4) dipastikan beredar di seluruh negeri. Infeksi dapat terjadi oleh salah satu atau lebih dari salah satu dari empat serotipe. Terlepas dari perbedaan-perbedaan ini, infeksi pada masing-masing serotipe demam berdarah menyebabkan penyakit dan gejala klinis yang berbeda-beda. Semua serotipe DENV dapat bermanifestasi sebagai demam berdarah tanpa gejala, demam berdarah, dengue hemorrhagic fever (DHF), dan sindrom syok dengue (DSS).<\/p>\n<p><\/span><\/p>\n<div class=\"dim\">Infeksi Demam Berdarah Sekunder<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nLaporan sebelumnya menunjukkan bahwa infeksi berikutnya dengan serotipe virus dengue yang berbeda meningkatkan kemungkinan berkembangnya demam berdarah parah. Penelitian yang dilakukan di Malaysia, India, dan Brazil menemukan bahwa pasien yang terinfeksi DENV secara bersamaan mempunyai intensitas tanda peringatan yang jauh lebih tinggi (90%) serta gejala klinis tambahan yang parah (15%). Selain itu, prevalensi pasien dengan jumlah trombosit yang sangat rendah juga telah dicatat. Infeksi sekunder dengan serotipe lain atau infeksi ganda dengan serotipe berbeda menyebabkan demam berdarah yang parah. Berdasarkan penelitian di Thailand, terungkap bahwa rangkaian infeksi DENV-1\/DENV-2 dikaitkan dengan risiko DBD 500 kali lebih tinggi dibandingkan infeksi primer. Risiko DBD meningkat 150 kali lipat pada rangkaian DENV-3\/DENV-2 dan 50 kali lipat pada rangkaian DENV-4\/DENV-2.<\/p>\n<p><\/span><\/p>\n<div class=\"dim\">Perawatan untuk Demam berdarah<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nTergantung pada stadium penyakit pasien, terdapat perbedaan dalam rencana pengobatan demam berdarah. Cairan antipiretik dan oral yang cukup biasanya dapat digunakan untuk mengobati individu tanpa tanda-tanda peringatan sebagai pasien rawat jalan. Selain itu, penting untuk memberi tahu pasien tentang tanda peringatan tersebut dan mendesak mereka untuk segera mendapatkan pertolongan jika ada tanda peringatan yang muncul. Rawat inap harus dipertimbangkan bagi pasien yang menunjukkan tanda-tanda peringatan penyakit, demam berdarah parah, atau memiliki faktor risiko seperti usia lanjut, hamil, menderita diabetes melitus, atau tinggal sendirian. Sangat penting untuk tidak melakukan pengobatan sendiri dengan obat antiinflamasi nonsteroid (misal ibuprofen, aspirin), antiemetik, dan obat lain yang tidak diresepkan oleh dokter karena dapat memperburuk fungsi hati dan trombosit.<\/p>\n<p><\/span><\/p>\n<div class=\"dim\">Pencegahan Demam berdarah<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nSalah satu cara agar tidak tertular virus demam berdarah adalah dengan mencegah gigitan nyamuk. Anda dapat menurunkan risiko tertular penyakit ini dengan melindungi diri Anda sendiri terutama pada siang hari ketika nyamuk pembawa penyakit sedang aktif dengan menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh Anda, kelambu, tirai jendela, dan obat nyamuk. Cara lainnya adalah dengan menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk khususnya genangan air, baik di dalam maupun di luar rumah, serta selalu menutup wadah atau tempat sampah. Penting untuk diketahui bahwa gigitan nyamuk masih dapat terjadi meskipun telah dilakukan tindakan pencegahan berikut.<\/p>\n<p><\/span><\/p>\n<section id=\"exam\">\n<div class=\"dim\">Vaksinasi untuk DBD (Demam Berdarah Dengue)<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nDi Indonesia, masyarakat berusia 6-45 tahun dianjurkan untuk mendapatkan vaksin demam berdarah. Vaksin demam berdarah diartikan sebagai pencegahan penyakit demam berdarah yang disebabkan oleh serotipe virus dengue apa pun. Dilaporkan juga bahwa individu yang terinfeksi untuk kedua kalinya memiliki risiko lebih besar terkena demam berdarah parah. Vaksin demam berdarah juga dapat membantu melindungi terhadap demam berdarah pada orang yang pernah menderita demam berdarah dengan rekomendasi untuk menunggu minimal 6 bulan pasca pemulihan sebelum menerima vaksin demam berdarah.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<div class=\"text\">\n<dl class=\"exam_datalist\">\n<dt><b>1.<\/b><\/dt>\n<dd>\nVaksin Demam Berdarah Tetravalent dari Takeda, TAK-003, atau dikenal dengan nama dagang QDENGA terdiri dari 2 kali suntikan yang diberikan dengan selang waktu 3 bulan. Namun menurut rekomendasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), obat ini dilarang untuk wanita hamil atau berencana hamil minimal 1 bulan setelah vaksinasi, wanita menyusui, dan orang dengan imunodefisiensi seperti pasien HIV yang tidak menjalani terapi antiretroviral, kanker pasien yang menjalani kemoterapi, pasien yang menjalani terapi steroid dosis tinggi, dan pasien dengan defisiensi imun primer.\n<\/dd>\n<div><a href=\"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/opd\/vaccine\/dengue\/\" rel=\"noopener\">Detail lebih lanjut tentang vaksin Demam Berdarah dapat ditemukan di sini.<\/a><\/div>\n<dt><b>2.<\/b><\/dt>\n<dd>\nChimeric Yellow Fever Dengue (CYD-TDV) atau dikenal dengan nama merek Dengvaxia, dapat diberikan kepada anak yang terkonfirmasi DBD dengan menggunakan tes antigen (NS-1 dengue rapid test atau PCR). Vaksin CYD terdiri dari 3 suntikan yang diberikan dengan selang waktu 6 bulan dan hanya dapat diberikan kepada anak usia 9-16 tahun sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).\n<\/dd>\n<\/p><\/div>\n<\/section>\n<section id=\"doctor\">\n<h1>Dokter yang mengawasi<\/h1>\n<ul class=\"doctorbox\">\n<li class=\"doctorpart\" style=\"margin-bottom: 0;\">\n        <img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/\u30a2\u30bb\u30c3\u30c8-27@2x-8.png\" alt=\"\"><\/p>\n<div class=\"text\">\n<div class=\"name\">\n            Dokter Umum<br \/>Dr.Thoe,Isabella Roseline P.P.\n        <\/div>\n<p><!--        \n\n<ul class=\"detail\">\n            \n\n<li>\u8a3a\u5bdf\u66dc\u65e5\uff1a\u706b\u66dc\u65e5\u304b\u3089\u571f\u66dc\u65e5<\/li>\n\n\n            \n\n<li>\u8a3a\u5bdf\u6642\u9593\uff1a8:00~18:00<\/li>\n\n\n            \n\n<li>\u8a00\u8a9e\uff1a\u30a4\u30f3\u30c9\u30cd\u30b7\u30a2\u8a9e\u30fb\u82f1\u8a9e<\/li>\n\n\n        <\/ul>\n\n-->\n        <\/div>\n<\/li>\n<\/ul>\n<\/section>\n<section class=\"yoyaku\" id=\"reserve\">\n<div class=\"title\">Reservasi dan pertanyaan, silakan hubungi kami di sini.<\/div>\n<div class=\"flex\">\n<div class=\"box\">\n<div class=\"text\"><span>\\<\/span>Untuk yang menghubungi di luar jam kerja, silakan hubungi di sini!<span>\/<\/span><\/div>\n<p>        <a href=\"https:\/\/wa.me\/6285714049308\"><\/p>\n<div class=\"line_btn\">\n            Reservasi lewat Whatsapp\n        <\/div>\n<p>        <\/a><\/p><\/div>\n<div class=\"box\">\n<div class=\"text\"><span>\\<\/span>Untuk yang membutuhkan layanan segera selama jam buka, silakan hubungi di sini!<span>\/<span><\/div>\n<p>        <a href=\"tel:+62 21 8665 6830\"><\/p>\n<div class=\"tel_btn\">\n            +62 21 8665 6830\n        <\/div>\n<p>        <\/a>\n    <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/section>\n<div class=\"dim\">Refrensi:<\/div>\n<p><span class=\"usp\" style=\"word-break: break-word;\"><br \/>\nSchaefer TJ, Panda PK, Wolford RW. Dengue Fever. StatPearls Publishing; 2024.<br \/>\nHarapan H, Michie A, Mudatsir M, Sasmono RT, Imrie A. Epidemiology of dengue hemorrhagic fever in Indonesia: analysis of five decades data from the National Disease Surveillance. BMC Res Notes [Internet]. 2019 [cited 2024 Jul 4];12(1). Available from: http:\/\/dx.doi.org\/10.1186\/s13104-019-4379-9<br \/>\nKemenkes RI. Info DBD hingga minggu ke 22 tahun 2024 [Internet]. Kemkes.go.id. 2024 [cited 2024 Jul 4]. Available from: https:\/\/p2pm.kemkes.go.id\/publikasi\/infografis\/info-dbd-hingga-minggu-ke-22-tahun-2024<br \/>\nKemenkes RI. Info DBD hingga minggu ke 33 tahun 2023 [Internet]. Kemkes.go.id. 2023. Available from: https:\/\/p2pm.kemkes.go.id\/publikasi\/infografis\/info-dbd-minggu-ke-33-tahun-2023<br \/>\nDengue &#8211; global situation [Internet]. Who.int. [cited 2024 Jul 4]. Available from: https:\/\/www.who.int\/emergencies\/disease-outbreak-news\/item\/2024-DON518<br \/>\nDengue and severe dengue [Internet]. Who.int. [cited 2024 Jul 4]. Available from: https:\/\/www.who.int\/news-room\/fact-sheets\/detail\/dengue-and-severe-dengue<br \/>\nJadwal Imunisasi Anak IDAI 2023 [Internet]. Idai.or.id. [cited 2024 Jul 4]. Available from: https:\/\/www.idai.or.id\/artikel\/klinik\/imunisasi\/jadwal-imunisasi-anak-idai<br \/>\nJadwal Imunisasi Dewasa [Internet]. PAPDI. 2023 [cited 2024 Jul 4]. Available from: https:\/\/satgasimunisasipapdi.com\/jadwal-imunisasi-dewasa\/<br \/>\nGuy B, Ooi EE, Ramos-Casta\u00f1eda J, Thomas SJ. When can one vaccinate with a live vaccine after wild-type dengue infection? Vaccines (Basel) [Internet]. 2020 [cited 2024 Jul 4];8(2):174. Available from: http:\/\/dx.doi.org\/10.3390\/vaccines8020174<br \/>\nSoo K-M, Khalid B, Ching S-M, Chee H-Y. Meta-analysis of dengue severity during infection by different dengue virus serotypes in primary and secondary infections. PLoS One [Internet]. 2016 [cited 2024 Jul 5];11(5):e0154760. Available from: http:\/\/dx.doi.org\/10.1371\/journal.pone.0154760<br \/>\nGupta A, Rijhwani P, Pahadia MR, Kalia A, Choudhary S, Bansal DP, et al. Prevalence of dengue serotypes and its correlation with the laboratory profile at a tertiary care hospital in northwestern India. Cureus [Internet]. 2021 [cited 2024 Jul 5];13(5). Available from: http:\/\/dx.doi.org\/10.7759\/cureus.15029<\/p>\n<p><\/span><\/p>\n","protected":false},"parent":931,"menu_order":0,"template":"","acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/opd\/935"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/opd"}],"about":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/types\/opd"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/opd\/931"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}