{"id":1011,"date":"2025-06-24T09:50:21","date_gmt":"2025-06-24T09:50:21","guid":{"rendered":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/?post_type=opd&#038;p=1011"},"modified":"2025-06-25T02:56:49","modified_gmt":"2025-06-25T02:56:49","slug":"mycoplasma","status":"publish","type":"opd","link":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/opd\/examination\/std\/herpes\/mycoplasma\/","title":{"rendered":"Tentang Mycoplasma"},"content":{"rendered":"<style>\n.dim{\n\tfont-size: 24px;\n\tmargin: 50px 0 0px;\n\tbackground-color: #4cb5a0;\n\tcolor: #FFFFFF;\n\tborder-top: none;\n\tpadding-top: 0 !important;\n\tpadding: 10px 15px !important;\n}\n.usp {\nfont-size: 16px;\nline-height: 1.5;\nmargin-bottom: 20px;\n}<\/p>\n<p>.underline_02 {\n\/*background:linear-gradient(transparent 85%, #f4d20c 0%);\npadding: 0 0 10px 0;*\/<\/p>\n<p>border-bottom: solid 5px #f4d20c;\npadding: 0 0 6px 0;\n}\n.asxxs {\nbackground:linear-gradient(transparent 50%, rgba(246, 185, 104, 0.5) 50%);<\/p>\n<p>}<\/p>\n<p>.zvxb {\npadding: 0.5em 1em;\nmargin: 2em 0;\nfont-weight: bold;\ncolor: #6091d3;\nbackground: #FFF;\nborder: solid 3px #6091d3;\nborder-radius: 10px;\n}\n.zvxb p {\nmargin: 0; \npadding: 0;\n}<\/p>\n<p>#doctor .doctorbox{\n\tdisplay: flex;\n\tflex-wrap: wrap;\n\tjustify-content: flex-start;\n\tcolumn-gap: 2%;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart{\n\twidth: 48%;\n\tmargin-bottom: 40px;\n\tdisplay: flex;\n\tjustify-content: space-between;\n\talign-items: center;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart img{\n\twidth: 37%;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart .text{\n\twidth: 60%;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart .text .name{\n\tline-height: 1.5;\n\tfont-size: 15px;\n\tfont-weight: bold;\n\tmargin-bottom: 20px;\n}\n#doctor .doctorbox .doctorpart .text .detail li{\n\tpadding-left: 1em;\n\tborder-left: 4px solid #50b3a0;\n\tmargin-bottom: 7px;\n\tfont-size: 12px;\n}\n@media screen and (max-width: 768px){\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart{\n\t\twidth: 100%;\n\t}\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart img{\n\t\twidth: 32%;\n\t}\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart .text{\n\t\twidth: 65%;\n\t}\n\t#doctor .doctorbox .doctorpart .text .name{\n\t\tfont-size: 14px;\n\t\tmargin-bottom: 15px;\n\t}\n}<\/p>\n<\/style>\n<link rel=\"stylesheet\" href=\"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/wp-content\/themes\/clinic\/style\/css\/pages\/department-test.css?v=20240717070928\">\n<div class=\"dim\">Tentang Mycoplasma<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nMycoplasma, yang dikenal sebagai salah satu penyebab pneumonia, disebabkan oleh infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae. Di sisi lain, infeksi pada uretra atau vagina disebabkan oleh bakteri seperti Mycoplasma genitalium dan Mycoplasma hominis, yang dapat menyebabkan kondisi seperti uretritis dan servisitis. Infeksi Mycoplasma yang ditularkan secara seksual terjadi ketika cairan tubuh dari orang yang terinfeksi bersentuhan langsung dengan selaput lendir orang lain. Meskipun tidak menular melalui droplet di udara, infeksi tetap dapat terjadi melalui ciuman dalam (deep kissing).<br \/>\n<\/span><\/p>\n<section id=\"cant\">\n<div class=\"dim\">Jalur Penularan<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nDi antara spesies Mycoplasma, M. genitalium dan M. hominis terutama ditularkan melalui kontak seksual. Penularan dapat terjadi melalui hubungan seksual vaginal, anal, atau oral, dengan hubungan tanpa kondom memiliki risiko yang sangat tinggi. M. hominis juga dapat hidup sebagai flora normal di saluran genital atau saluran kemih, namun dapat menimbulkan gejala dalam kondisi tertentu seperti saat daya tahan tubuh melemah. Banyak orang membawa bakteri ini tanpa menunjukkan gejala, yang meningkatkan risiko penularan tanpa disadari kepada pasangan. Oleh karena itu, kesadaran dan pencegahan sangat penting.<br \/>\n<\/span><br \/>\n<\/section>\n<section id=\"cant\">\n<div class=\"dim\">Gejala yang Umum<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nInfeksi Mycoplasma sering kali tidak menunjukkan gejala. Namun bila gejala muncul, biasanya berbeda antara pria dan wanita. Pada infeksi M. genitalium, pria dapat mengalami uretritis ringan atau rasa tidak nyaman saat buang air kecil, sementara wanita dapat mengalami servisitis atau penyakit radang panggul (PID). Infeksi ini dapat menyebabkan infertilitas dan tidak boleh diabaikan. M. hominis cenderung menyebabkan masalah pada saat sistem kekebalan tubuh melemah, dan telah dikaitkan dengan vaginitis, infeksi intrauterin, serta komplikasi kehamilan seperti kelahiran prematur atau keguguran. Pada pria, M. hominis mungkin terkait dengan infeksi saluran kemih atau prostatitis. Kedua patogen ini dapat menimbulkan gejala yang mirip dengan klamidia atau gonore, sehingga risiko salah diagnosis cukup tinggi.<br \/>\n<\/span><br \/>\n<\/section>\n<section id=\"cant\">\n<div class=\"dim\">Pemeriksaan dan Diagnosis<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nMetode kultur standar sering tidak efektif untuk mendeteksi spesies Mycoplasma, sehingga tes amplifikasi asam nukleat seperti PCR menjadi alat diagnosis utama. Sampel biasanya diambil dari urin, cairan vagina, atau usapan serviks untuk identifikasi genetik. Namun karena M. hominis dapat menjadi flora normal, hasil harus diinterpretasikan berdasarkan gejala klinis. M. genitalium biasanya diperiksa ketika gejala menetap meskipun hasil tes klamidia negatif. Tes ini tidak selalu termasuk dalam panel IMS standar, sehingga sering kali diperlukan permintaan khusus dari dokter. Tes ini mungkin tidak ditanggung oleh asuransi, dan akurasi diagnosis dapat bervariasi tergantung laboratorium.<br \/>\n<\/span><br \/>\n<\/section>\n<section id=\"cant\">\n<div class=\"dim\">Pengobatan<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nPenggunaan kondom secara benar merupakan metode paling efektif untuk mencegah infeksi Mycoplasma. Ini berlaku untuk hubungan seksual vaginal, anal, dan oral, terutama dengan pasangan baru atau berganti-ganti pasangan. Karena banyak infeksi tidak menunjukkan gejala, skrining IMS secara rutin tetap dianjurkan meskipun tidak ada gejala. Khususnya, jika seseorang dinyatakan negatif untuk klamidia dan gonore namun tetap mengalami gejala, maka pemeriksaan Mycoplasma perlu dipertimbangkan. Edukasi mengenai IMS dan komunikasi terbuka dengan pasangan seksual adalah kunci pencegahan. Wanita hamil harus sangat berhati-hati, karena diagnosis dan pengobatan dini dapat berperan penting bagi kesehatan janin.<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nSementara itu, M. hominis umumnya resisten terhadap makrolida dan lebih baik diobati dengan antibiotik golongan tetrasiklin seperti doksisiklin. Karena meningkatnya resistansi antibiotik, pemilihan obat harus dilakukan dengan hati-hati. Pengobatan sendiri sangat tidak disarankan; pengobatan harus berdasarkan instruksi dokter. Jika salah satu pasangan menjalani pengobatan, pasangan lainnya juga harus diperiksa dan diobati jika diperlukan untuk mencegah kekambuhan.<br \/>\n<\/span><br \/>\n<\/section>\n<section id=\"cant\">\n<div class=\"dim\">Pencegahan<\/div>\n<p><span class=\"usp\" ><br \/>\nPenggunaan kondom secara benar merupakan metode paling efektif untuk mencegah infeksi Mycoplasma. Ini berlaku untuk hubungan seksual vaginal, anal, dan oral, terutama dengan pasangan baru atau berganti-ganti pasangan. Karena banyak infeksi tidak menunjukkan gejala, skrining IMS secara rutin tetap dianjurkan meskipun tidak ada gejala. Khususnya, jika seseorang dinyatakan negatif untuk klamidia dan gonore namun tetap mengalami gejala, maka pemeriksaan Mycoplasma perlu dipertimbangkan. Edukasi mengenai IMS dan komunikasi terbuka dengan pasangan seksual adalah kunci pencegahan. Wanita hamil harus sangat berhati-hati, karena diagnosis dan pengobatan dini dapat berperan penting bagi kesehatan janin.<br \/>\n<\/span><br \/>\n<\/section>\n<section class=\"yoyaku\" id=\"reserve\">\n<div class=\"title\">Reservasi dan pertanyaan, silakan hubungi kami di sini.<\/div>\n<div class=\"flex\">\n<div class=\"box\">\n<div class=\"text\"><span>\\<\/span>Untuk yang menghubungi di luar jam kerja, silakan hubungi di sini!<span>\/<\/span><\/div>\n<p>        <a href=\"https:\/\/wa.me\/6285714049308\"><\/p>\n<div class=\"line_btn\">\n            Reservasi lewat Whatsapp\n        <\/div>\n<p>        <\/a><\/p><\/div>\n<div class=\"box\">\n<div class=\"text\"><span>\\<\/span>Untuk yang membutuhkan layanan segera selama jam buka, silakan hubungi di sini!<span>\/<span><\/div>\n<p>        <a href=\"tel:+62 21 8665 6830\"><\/p>\n<div class=\"tel_btn\">\n            +62 21 8665 6830\n        <\/div>\n<p>        <\/a>\n    <\/div>\n<\/p><\/div>\n<\/section>\n","protected":false},"parent":1015,"menu_order":0,"template":"","acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/opd\/1011"}],"collection":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/opd"}],"about":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/types\/opd"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/opd\/1015"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dymmedicalclinic.id\/in\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}